6 Dongeng Asli Indonesia Pengantar Tidur Anak



Saat masih kecil, kita pasti sering mendengar dongeng pengantar tidur dari cerita rakyat dan dongeng asli Indonesia. Apakah Anda masih ingat ada dongeng apa saja? Sepertinya sudah agak lupa, ya? Paling yang teringat cuma judul-judulnya saja, dan jalan ceritanya sudah agak-agak lupa. Nah, kali ini kami akan mengingatkan tentang 6 dongeng asli Indonesia yang sangat cocok buat pengantar tidur anak. Memangnya ada dongeng apa saja? Tanpa menunggu lebih lama lagi, cek daftar lengkapnya di bawah ini!

1. Sangkuriang

Cerita Sangkuriang berasal dari Jawa Barat dan mengisahkan tentang terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. Awal mula cerita rakyat ini adalah dari naskah Bujangga Manik yang ditulis di daun lontar pada akhir abad ke-15 Masehi. Memangnya seperti apa cerita Sangkuriang?

Jika kami ceritakan dari awal sampai akhir, akan sangat panjang. Maka dari itu, kami akan memberikan sinopsis pendeknya saja. Cerita berpusat pada pria bernama Sangkuriang dan wanita bernama Dayang Sumbi. Mereka berdua sebenarnya adalah anak dan ibu, tapi karena suatu kejadian malang di mana Sangkuriang tidak sengaja membunuh dewa yang menjelma menjadi anjing sekaligus ayahnya sendiri yang bernama Tumang, akhirnya Dayang Sumbi marah dan memukul Sangkuriang. Tidak terima, Sangkuriang kabur dari rumah dalam waktu yang sangat lama.

Dayang Sumbi menyesali keputusannya memukul Sangkuriang, dia akhirnya bertapa dan menjadi awet muda. Hingga saat dewasa, Sangkuriang bertemu gadis cantik dan jatuh cinta. Dia tidak tahu kalau gadis itu adalah ibunya sendiri, yakni Dayang Sumbi. Sangkuriang ingin menikahi Dayang Sumbi, tapi wanita yang cantik dan awet muda itu sadar kalau pria itu adalah anaknya sendiri saat melihat bekas luka yang sangat besar karena pukulannya saat Sangkuriang membunuh ayahnya sendiri.

Akhirnya, Dayang Sumbi menolaknya secara halus dengan memintanya untuk membuatkan danau lengkap dengan perahu dalam semalam saja. Dayang Sumbi sadar kalau permintaannya mustahil terwujud. Tapi ternyata Sangkuriang menyanggupinya dan mengerjakannya dengan baik dengan bantuan makhluk halus. Dayang Sumbi panik dan meminta bantuan dewa untuk menipu Sangkuriang, sehingga langit-langit menjadi terang dan ayam berkokok, menandakan pagi telah tiba. Sangkuriang murka dan menendang perahu buatannya hingga tertelungkup, sehingga menjadi Tangkuban Perahu. Cerita yang unik, ya? Dari dongeng Sangkuriang ini, kita dapat memetik beberapa pesan moral seperti tidak berbohong kepada orangtua, tidak dikuasai amarah, emosi, dan hawa nafsu.

2. Cindelaras

Pada daftar kedua, kita akan membahas cerita rakyat dari Jawa Timur bernama Cindelaras. Jangan salah baca jadi Cinderella ya! Meskipun sedikit mirip, tapi jalan ceritanya beda dengan cerita Cinderella, kok. Cerita bermula dari raja bernama Raden Putra yang punya 2 istri, selir dan permaisuri. Ternyata si selir memfitnah permaisuri yang baik hati dan sedang hamil, dengan dalih bahwa permaisuri berusaha meracuninya. Karena tabib memihak selir, maka raja percaya dan memerintahkan patih untuk mengusir dan membunuh permaisuri. Tapi patih tidak melakukannya dan membiarkan permaisuri hidup di hutan.

Beberapa tahun kemudian, permaisuri telah melahirkan anak bernama Cindelaras yang cerdas dan tampan. Cindelaras lalu menemukan sebuah telur dan menetaskannya, hingga muncullah seekor anak ayam yang lucu. Setelah besar, ternyata ayam itu bisa ngomong dan memberitahu kalau ayahnya merupakan Raden Putra Raja Jenggala. Cindelaras kaget dan menanyakannya ke ibunya. Karena kaget dengan kejadian itu, ibu Cindelaras menceritakan semua yang terjadi. Akhirnya Cindelaras memutuskan untuk pergi menemui ayahnya dengan ditemani ayam jantannya.

Di tengah perjalanan, Cindelaras bertemu dengan pengadu ayam dan berusaha mengalahkan ayam jantannya Cindelaras. Tapi ternyata si ayam ajaib tidak terkalahkan. Cindelaras menang terus, hingga sang raja mendengarnya. Raja akhirnya menantang Cindelaras untuk adu ayam. Jika Cindelaras kalah, ayamnya akan diambil dan dia dipasung. Kalau raja kalah, setengah kekayaannya akan jadi milik Cindelaras. Tanpa pikir panjang, Cindelaras mengiyakan tantangan raja. Ternyata, ayam jago ajaib milik Cindelaras menang dan raja mengakui kekalahannya. Namun, si ayam ajaib mengatakan, “Kukuruyuk, tuanku Cindelaras, rumahnya di dalam hutan, atapnya terbuat dari daun kelapa, ayahnya Raden Putra.”

Kaget mendengar suara ayam itu, raja menanyakan kebenarannya ke Cindelaras dan si patih. Setelah mengetahui kebenarannya, sang raja menghukum selir dan meminta maaf ke permaisuri dan Cindelaras. Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya. Nah, pesan moral apa yang dapat dipetik? Yang jelas, jangan berbuat jahat kepada orang lain, ya!

3. Bawang Merah Bawang Putih

Kisah Bawang Merah Bawang Putih berasal dari Riau dan memiliki pesan moral yang bagus. Sebelum membahas pesan moral, alangkah lebih baik jika kita membaca sinopsis singkatnya dulu. Jadi, cerita rakyat ini mengisahkan tentang Bawang Putih yang baik hati dan tidak serakah, serta Bawang Merah yang serakah banget. Selain itu juga ada tokoh lainnya seperti ibu tiri yang sama serakahnya dengan Bawang Merah, dan nenek penyihir.

Bawang Putih selalu ditindas oleh Bawang Merah dan ibu tirinya. Suatu hari, Bawang Putih bertemu dengan seorang nenek dan membantunya, selanjutnya sebagai rasa terimakasih Bawang Putih disuruh memilih labu kecil atau labu besar. Karena tidak serakah, Bawang Putih memilih yang kecil. Saat tiba di rumah, ternyata isi labunya adalah perhiasan dan permata. Saking serakahnya, Bawang Merah dan ibu tirinya menyalahkan Bawang Putih karena tidak memilih labu besar yang bisa jadi berisi perhiasan yang lebih banyak lagi.

Akhirnya, Bawang Merah berusaha menemui nenek tadi hanya untuk meminta labu yang besar, dan tidak mau membantu pekerjaan nenek. Sang nenek mengabulkannya dan memberikan labu besar ke Bawang Merah. Saking bahagianya, Bawang Merah membawa labu merah ke ibunya dan langsung membukanya. Betapa kagetnya mereka karena isi labunya adalah kalajengking, ular, dan hewan berbisa lainnya. Bawang Merah dan ibu tiri akhirnya tobat dan meminta maaf ke Bawang Putih. Akhirnya, mereka hidup bahagia selamanya.

Jadi, pesan moral apa yang bisa diambil? Banyak sih, yang pertama adalah sabar menghadapi cobaan, lalu tidak tamak, kemudian harus saling membantu, dan juga saling memaafkan.

4. Roro Jonggrang

Apakah Anda pernah mengunjungi Candi Prambanan atau Candi Sewu? Jika pernah, maka ada mitologi dan cerita rakyat asal Yogyakarta menarik tentang terbentuknya candi-candi itu. Ceritanya adalah tentang Roro Jonggrang atau Rara Jonggrang yang artinya gadis langsing.

Cerita ini mengisahkan tentang Raden Bandung Bondowoso yang ingin menikahi Roro Jonggrang. Tapi, Roro Jonggrang tidak mau karena pria itu telah membunuh ayahnya saat perang kerajaan. Namun, karena Raden Bandung Bondowoso merayu terus-terusan, akhirnya Roro Jonggrang menerimanya namun dengan 2 syarat yang mustahil dilakukan, yaitu membuat sumur yang nantinya bernama Jalatunda, dan syarat kedua adalah membangun 1000 candi hanya dalam waktu semalam saja.

Namun ternyata Bandung Bondowoso sangat sakti dan memanggil bangsa jin untuk membantunya melakukan tugas-tugas itu. Tugas pertama diselesaikan dengan sangat cepat. Roro Jonggrang sempat menjebaknya hingga terperangkap di dalam sumur, tapi dengan mudah Raden Bondowoso menerobos keluar. Si Raden sempat marah sama Roro Jonggrang, tapi marahnya reda akibat rayuan sang putri. Tugas kedua juga dikerjakannya dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang mendengar kalau sudah ada 999 candi yang terbentuk, langsung panik dan menyuruh dayang-dayang istana untuk membakar jerami dari arah timur. Sehingga cahaya dari timur dari bara api itu memberi kesan bahwa matahari mulai terbit. Hal ini membuat para jin seketika bersembunyi ke dalam perut bumi dan hanya 999 candi yang berhasil dibangun. Mengetahui kalau semua itu hanya tipuan, Raden Bandung Bondowoso menjadi sangat murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Nah, itulah cerita rakyat Roro Jonggrang yang berakhir agak menyedihkan. Agak berbeda ya dengan cerita rakyat sebelumnya seperti Cindelaras, atau Bawang Merah Bawang Putih yang berakhir bahagia? Nah, mungkin pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah jika kita menipu orang, pasti akan mendapat balasannya pada akhirnya.

5. Malin Kundang

Cerita kelima bakal mengajarkan kita untuk tidak durhaka ke emak alias ibu kita, yang berjudul Malin Kundang dari Sumatra Barat. Mungkin, cerita ini yang paling terngiang di ingatan saat masih kecil. Apa Anda ingat ceritanya? Kalau lupa, akan kami ceritakan sinopsis singkatnya, ya!

Cerita berpusat pada seorang ibu bernama Mande Rubayah yang tinggal bersama anak laki-lakinya bernama Malin Kundang. Saat sudah besar, Malin Kundang pergi merantau untuk mencari uang dan lama tidak kembali. Mande Rubayah selalu menanti anaknya dan berdoa agar anaknya segera pulang kampung. Apalagi, dia mendapat kabar kalau anaknya sudah menikah dengan anak bangsawan.

Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, ada kapal mendarat di kampungnya Mande Rubayah, dan ternyata itu adalah kapal Malin Kundang dan istrinya. Saking senangnya, Mande Rubayah langsung memeluk anaknya. Namun, istri Malin Kundang yang berasal dari kalangan bangsawan berkata sinis, “Eh, bukannya kamu bilang kalau ibumu seorang bangsawan yang sederajat denganku?!”

Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang terpengaruh dan malah mendorong ibunya hingga terguling di pasir seraya berkata, “Wanita gila! Aku bukan anakmu!”

Mande Rubayah membalas, “Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kamu jadi seperti ini?!”

“Heh, wanita gila! Ibuku tidak seperti kamu yang melarat dan kotor!” Pungkas Malin Kundang dengan kasarnya.

Saking syoknya, Mande Rubayah langsung pingsan beberapa menit dan Malin Kundang serta rombongan langsung pergi naik kapal menjauhi pesisir pantai. Setelah sadar, Mande langsung berdoa untuk meminta keadilan Tuhan. Akhirnya, kapal Malin Kundang hancur berkeping-keping, dan Malin Kundang berubah menjadi batu yang mendarat di kaki bukit.

6. Timun Mas

Pada daftar terakhir, ada Timun Mas atau Timun Emas yang berasal dari Jawa dan mengisahkan tentang gadis pemberani yang mencoba melawan raksasa hijau jahat bernama Buto Ijo. Lalu seperti apa cerita lengkapnya?

Cerita ini bermula dari wanita janda bernama Mbok Srini yang menginginkan anak sejak ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu. Suatu hari, Mbok Srini bertemu Buto Ijo dan diberi biji timun. Buto Ijo menyuruh Mbok Srini untuk menanamnya dan setelah berbuah, nanti akan ada anak perempuan di dalamnya. Tapi, Buto Ijo akan memakan anak itu saat sudah besar.

Mbok Srini yang sangat menginginkan anak, akhirnya mengiyakan dan menuruti perkataan Buto Ijo. Beberapa bulan kemudian, betapa kagetnya Mbok Srini ketika apa yang dikatakan raksasa jelek itu menjadi kenyataan, ada anak perempuan di dalam buah timun, yang akhirnya dinamai Timun Mas.

Ketika Timun Mas beranjak dewasa, Buto Ijo menagih janji kepada Mbok Srini untuk mengambil dan memakan Timun Mas. Namun, Mbok Srini dan Timun Mas menolak dan melarikan diri. Bagian yang paling seru adalah ketika Timun Mas dan Buto Ijo kejar-kejaran sampai akhirnya, Timun Mas berhasil melumpuhkan Buto Ijo dengan menggunakan ramuan dari seorang petapa gunung. Nah, pesan moralnya adalah tidak boleh mengancam dan berlaku jahat kepada orang lain karena nanti akan mendapat hukuman yang setimpal.

Nah, itulah 6 dongeng asli Indonesia yang bisa menjadi pengantar tidur anak-anak. Menurut Anda, cerita mana yang paling seru untuk diceritakan ke anak? Beritahu kami di kolom komentar, ya! Akhir kata, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan.