6 Kesenian Drama Tradisional Indonesia yang Wajib Kita Ketahui



Kesenian tradisional di Indonesia beraneka ragam. Jika kita telisik mereka satu persatu, pasti akan mengundang rasa kagum, karena setiap daerah memiliki tradisi seni yang berbeda-beda. Termasuk juga dengan kesenian drama tradisional yang sangat menarik untuk dibahas. Maka kali ini kami akan membahas 6 kesenian drama tradisional Indonesia yang wajib diketahui. Sudah penasaran? Kalau begitu, langsung cek daftar pertama di bawah ini!

1. Ludruk

Daftar pertama adalah Ludruk, kesenian drama tradisional asal Jawa Timur. Awalnya Ludruk dikenal sebagai teater rakyat yang sudah ada sejak tahun 1907 di Jombang. Awalnya Ludruk merupakan kesenian pengamen yang berisikan syair-syair dan iringan musik. Namun lambat-laun, kesenian drama ini menjadi lebih digemari masyarakat luas. Seni drama ini sering mengadaptasi cerita rakyat sehari-hari atau kisah perjuangan. Uniknya, setiap cerita yang disajikan seringkali ditambahkan bumbu komedi, sehingga mengundang gelak tawa penontonnya. Selain itu, Ludruk juga sering diiringi oleh suara gamelan sebagai instrumen musik utama.

Salah satu tokoh seniman Indonesia legendaris yang melestarikan seni drama Ludruk adalah Kartolo yang lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 2 Juli 1945, beberapa bulan sebelum kemerdekaan Indonesia. Kartolo sudah meniti karir dalam dunia Ludruk sejak tahun 1960-an, dan membentuk grup Ludruk Kartolo CS. Apakah Anda pernah menonton grupnya Kartolo?

2. Wayang Orang

Pada daftar kedua ada Wayang Orang, yang merupakan salah satu cabang pewayangan dan diciptakan oleh KGPAA Mangkunegoro I pada abad ke-18 di Solo. Kemudian pada tahun 1899, Paku Buwono X mulai rutin mengadakan pertunjukan Wayang Orang, setelah beliau meresmikan Taman Sriwedari.

Sesuai namanya, Wayang Orang menggunakan orang sebagai tokoh pewayangan dan tidak lagi menggunakan boneka-boneka wayang. Para tokoh wayang orang menggunakan pakaian dan hiasan yang sama seperti pada wayang kulit, agar terlihat seperti tokoh di cerita-cerita kolosal Mahabarata dan Ramayana.

Ada banyak pertunjukan Wayang Orang yang masih ada saat ini, seperti di sekitar Pasar Senen Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Sriwedari Solo, Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, dan masih banyak lagi lainnya.

3. Lenong

Apakah Anda pernah mendengar kesenian drama asal Jakarta bernama Lenong? Kalau belum, maka kami akan mencoba menggambarkan suasana pertunjukan Lenong. Lenong identik dengan pesan moral seperti menolong yang lemah, menghindari perbuatan tercela, dan pesan positif lainnya, dan selalu diiringi oleh musik gambang kromong. Uniknya, Lenong penuh dengan improvisasi, mulai dari dialog, humor, adegan, hingga tarian di dalamnya.

Pada umumnya, ada 2 jenis Lenong yaitu Lenong Preman dan Lenong Denes. Apa bedanya? Kalau Lenong Denes berlatar belakang raja dan bangsawan dari budaya Melayu atau luar melayu seperti Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Syah Mardan, Hamlet, King Lear, Shakespeare, dan lainnya. Seragam yang digunakan juga sesuai dengan tema cerita.

Sedangkan Lenong Preman berkisah tentang keseharian rakyat Betawi, terutama kalangan pendekar dan jawaranya. Beberapa cerita terkenal Lenong Preman adalah Si Ayub Jago Betawi, Si Gondrong Jagoan Kwitang, dan Si Pitung. Berbeda dengan versi Denes, Lenong Preman menggunakan pakaian sehari-hari dan penuh adegan silat.

Indonesia pertama-kali mengenal Lenong pada tahun 1886 yang dibawa oleh pedagang Persia. Akhirnya muncul pertunjukan Lenong pertama di Riau dengan nama Abdul Muluk. Kalau Anda, apa pernah menonton pertunjukan Lenong? Beritahu di bawah, ya.

4. Ketoprak

Lanjut ke daftar ketiga yaitu Ketoprak. Bukan, ini bukan makanan khas Jakarta, tapi merupakan seni drama asal Surakarta dan berkembang di Yogyakarta. Ketoprak pada tempo dulu menggunakan lesung atau tempat menumbuk padi yang dipukul berirama sebagai alat musik pengiring. Namun seiring berjalannya waktu, seni Ketoprak sudah menggunakan gamelan Jawa dan mementaskan cerita yang lebih panjang, seperti kisah kerajaan, peperangan, dan lain-lain.

Ketoprak pertama-kali dikenalkan oleh RM Wreksodiningrat pada tahun 1914 di Keraton Surakarta. Dia adalah seniman tari dan wayang orang di Surakarta. Namun sebenarnya, seni Ketoprak sudah ada sejak tahun 1887.

Saat ini, masih cukup banyak yang mengadakan pertunjukan Ketoprak di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Anda dapat menemukannya di auditorium radio Republik Indonesia (RRI), Taman Budaya Yogyakarta, dan Sriwedari. Jadi jika Anda pernah berwisata ke lokasi-lokasi tersebut, bisa jadi Anda sudah pernah menonton drama Ketoprak.

5. Mamanda

Seni drama kelima bernama Mamanda yang berasal dari kota Banjar, Kalimantan Selatan, dan sering mengangkat kisah dan budaya antara kerajaan. Seni drama ini lahir dari seni Badamuluk sekitar tahun 1897, ketika rombongan Abdoel Moeloek dari Kesultanan Malaka berkunjung ke Banjar selama 10 bulan.

Mamanda menggunakan properti panggung yang realistis seperti hutan, pantai, dan kerajaan. Sedangkan dalam hal penokohan, Mamanda memiliki tokoh-tokoh tetap seperti Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri, dan lain-lain. Jalan cerita disisipi dengan komentar lucu sambil berinteraksi dengan penontonnya, mirip dengan lenong. Sedangkan untuk dialog, lebih sering improvisasi daripada terpakem.

Hingga saat ini, kesenian Mamanda rasanya sudah mulai kalah oleh kesenian modern, apalagi di telinga generasi muda. Maka, akan jauh lebih baik jika kita ikut andil dalam melestarikan dan mempopulerkan kesenian Mamanda ini, agar tidak punah.

6. Randai

Daftar terakhir adalah Randai yang hampir mirip dengan acara Ludruk, yaitu menggabungkan musik dan adegan-adegan seru. Anda dapat menjumpai seni pertunjukan drama Randai di daerah Minangkabau dan sekitarnya. Biasanya, pertunjukan drama tradisional ini dipimpin oleh satu orang yang disebut panggoreh dan dipercayai oleh seluruh anggota. Tapi karena durasi pertunjukannya bisa memakan waktu hingga 5 jam, maka posisi panggoreh dapat digantikan anggota tim lainnya.

Asal usul terciptanya seni tradisional Randai masih simpang siur, ada yang berpendapat kalau Randai mulai terbentuk dengan sendirinya dari rakyat Minangkabau sejak tahun 1885, ada yang berpendapat juga kalau kesenian Randai sudah ada jauh sebelum tahun itu. Yang pasti, kesenian Randai telah mengalami pasang surut. Saat penjajahan Jepang, Randai mengalami kemunduran. Namun setelah merdeka, banyak yang berusaha melestarikan seni drama asal Minangkabau ini. Hingga sekarang setidaknya ada sekitar 300 sanggar kesenian Randai di Sumatra Barat.

Nah, itulah 6 kesenian drama tradisional Indonesia yang wajib Anda ketahui. Jika Anda kebetulan tahu drama tradisional yang lainnya, beritahu kami di kolom komentar, ya! Jangan lupa juga menceritakan pengalaman saat menonton seni drama tradisional yang kami sebutkan di atas.