10 Mitos Tentang Perkawinan Untuk Kita Lupakan



Musim semi telah mendekat, yang berarti juga datangnya musim acara pernikahan. Orang-orang memiliki opininya yang kuat tentang cara menjalankan sebuah perkawinan, tapi terdapat banyak mitos tentang “penyatuan dua pribadi” ini yang akan kita kuburkan. Beberapa mitos tersebut muncul dari budaya pop, sementara yang lainnya berasal dari orang tua kita. Acuhkan semua saran yang bertentangan itu dan perhatikan semua mitos perkawinan berikut.

1. Tak ada perkelahian

Jika anda mengira kebahagiaan dalam perkawinan tak akan berakhir dengan argumen, maka anda sangat keliru. Argumentasi tidak akan membuat sebuah perkawinan memburuk, perbedaan pendapat akan menjadi yang terbaik dari kita dan bahkan sesekali pasangan “malaikat” anda akan membuat anda depresi. Pastikan anda tetap berkomunikasi satu sama lain dibanding hanya membiarkan kekecewaan dan kekesalan itu berlangsung terus – itulah kuncinya.

2. Belahan jiwa anda benar-benar seperti anda

Anda mungkin memiliki sebuah kesamaan dengan pasangan romantis anda, tapi anda tak harus menemukan seseorang yang hampir seperti imitasi dari anda. Kenyataannya, ketidaksesuaian seringkali menarik! Yang dibutuhkan adalah kesamaan prinsip-prinsip mendasar, dan itu nyaris semuanya. Itu semua adalah tentang kompromi dan melihat hal-hal dari perspektif orang yang lain.

3. Semua orang memiliki “seseorang” di luar sana

Tak mungkin di dunia dengan miliaran orang ini, hanya ada satu orang untuk anda di luar sana. Ide dari satu “belahan jiwa” adalah menarik tapi ketinggalan jaman dan menambahkan banyak tekanan pada sebuah relasi. Gagasan ini memberikan alasan pada orang untuk tidak berusaha keras untuk perkawinan mereka, padahal semua perkawinan membutuhkan banyak usaha. Bahkan pasangan yang sempurna tidak dianugerahi cinta begitu saja.

4. Jangan pergi tidur dengan marah

Sementara ini bukanlah aturan umum yang buruk untuk dijalankan (pergi tidur dengan marah tentu saja akan menyebabkan kegelisahan dan ketidaktenangan), pergi ke tempat tidur tidur dengan rasa marah bukanlah sebuah penghancur. Meski akan susah untuk tidur jika anda tahu seseorang sedang kecewa dengan anda, sebuah jeda mungkin dibutuhkan untuk mengolah pikiran-pikiran anda dan membuat jarak dengan situasi yang terjadi. Tidur akan memberikan hal itu. Jangan terjaga semalaman dengan bertengkar – itu tak akan membuat segalanya lebih baik. Temuilah dia dengan mata yang segar keesokan harinya. 

5. Rencana hidup yang identik

Sama halnya seperti pasangan anda tidak harus menjadi cermin dari anda, mereka tak harus memiliki rencana hidup yang benar-benar sama dengan anda. Idealisme yang serupa tentu penting, seperti untuk menikah atau memiliki anak, tapi keharusan seperti menjadi seorang ibu yang tinggal di rumah atau untuk tinggal berdekatan dengan keluarga anda adalah sesuatu yang harus dibicarakan dahulu. Diskusikan hal-hal yang ingin anda kompromikan dengan pasangan anda. Bagaimana selebihnya? Anda dapat mengatasinya saat mereka muncul. 

6. Kehidupan intim menjadi membosankan atau makin jarang terjadi

Anda benar-benar punya kendali atas hal ini – para lajang mungkin takut atas perkawinan karena mereka mengira tidur bersama akan terasa kurang membara.  Semua hal akan menjadi datar hanya jika anda membiarkannya dan setiap relasi membutuhkan beberapa “bumbu” setelah berjalan sekian lama. 

7. Anda kehilangan kemandirian

Anda mungkin tidak memiliki banyak kebebasan seperti hari-hari waktu anda melajang dulu, tapi ini bukan berarti anda kehilangan kemandirian dan jati diri. Anda dan kekasih anda masih memiliki kehidupan yang terpisah dan dapat memiliki hobi dan kelompok teman yang berbeda. Jika tidak, semuanya akan menjadi membosankan – selalu jaga kebebasan itu, tapi tentunya dengan batasan-batasan!

8. Anda menjadi terbiasa dengan kebiasaan mengesalkan dari pasangan

Walaupun anda mencintai pasangan dan semua atribut yang datang bersama mereka, hal-hal yang mengesalkan dari mereka tak akan berubah menjadi menyenangkan seiring waktu. Hal-hal buruk itu tak akan menghilang begitu saja, dan mungkin sebenarnya akan makin bersembunyi di bawah permukaan, jadi penting untuk menemukan sebuah mekanisme “coping” jangka panjang dengan pasangan anda.

9. Kehadiran anak membuat sebuah perkawinan berkembang

Anak tak dapat membuat atau menghentikan sebuah perkawinan – itu tergantung pada anda dan pasangan anda. Akan tetapi, menambahkan anak pada perkawinan yang tidak stabil adalah jalan pintas yang pasti ke perceraian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak dapat meningkatkan kegembiraan dalam perkawinan, tapi langkah ini akan tepat jika anda memiliki anak setelah memperbaiki perkawinan yang buruk sebelumnya. Anak bukanlah plester!

10. Pasangan anda dapat meramalkan dengan tepat apa yang anda butuhkan dan bagaimana untuk membuat anda bahagia.

Seperti halnya tidak ada sesuatu “yang utama”, juga tidak ada sesuatu seperti “pasangan telepati” yang dapat menyelesaikan masalah hanya dengan membaca pikiran. Seperti kebanyakan hal pada daftar ini, semuanya akan bermuara pada komunikasi. Jangan biarkan kekecewaan anda berkembang sementara secara diam-diam berharap kekasih akan mengetahuinya. Jangan pernah berpikir bahwa hal yang mengganggu anda selalu sangat jelas dan anda tak perlu mengatakannya. Setelah anda mengucapkannya, “pintu penyembuhan” akan terbuka. Percakapan adalah solusinya, bukan hanya berdiam dengan harapan munculnya sebuah ilham ajaib.