8 Cara Berdamai Dengan Pasangan Yang Marah



Dalam lika-liku hubungan percintaan, ada kalanya menjumpai masa-masa penuh konflik dan amarah. Kadang, tindakan yang dilakukan kurang tepat sehingga menimbulkan rasa jengkel yang lebih besar lagi. Jika Anda ingin memadamkan konflik dan memutuskan untuk berdamai dengan pasangan yang marah, maka kami akan berbagi 6 cara melakukannya! Then, tanpa menunggu lebih lama lagi, check it out below.

1. Tahan emosi

Anda wajib menahan emosi saat pasangan sedang marah-marahnya. Jangan menabur luka dengan garam, nanti malah jadi semakin perih. Maka cara yang paling tepat adalah menahan emosi selama mungkin dan berdamai dengannya. Jangan malah ikut marah dan membuat suasana menjadi semakin panas.

Cara menahan emosi sebenarnya ada banyak seperti mengingat kenangan paling manis saat bersamanya. Mungkin Anda pernah berwisata ke pulau Bali dan menghabiskan waktu bersamanya di villa yang sangat indah dan romantis. Atau mungkin saat pertama-kali memeluknya di pelaminan. Dengan mengingat kenangan manis, maka amarah Anda akan mereda dengan sendirinya.

2. Intropeksi Diri dan Jelaskan Permasalahan Secara Lembut

Api tidak akan muncul jika tidak ada penyulutnya. Sama halnya jika pasangan Anda marah, maka pasti ada penyebabnya, kan? Nah, sebaiknya Anda berintrospeksi diri, mengapa dia marah? Memangnya apa yang salah? Perlakuan apa yang membuatnya jengkel dan sedih?

Coba reka ulang di ingatan Anda, detik-detik sebelum konflik terjadi. Saat Anda tahu masalahnya, maka Anda dapat memperbaikinya dan membahasnya kembali secara lembut agar permasalahannya segera selesai. Namun jika Anda tidak tahu apa masalahnya, maka tanyakan kepadanya apa sebenarnya yang salah. Tanyakan secara lembut dan romantis, agar konflik segera berakhir, bukan hubungan Anda dengannya.

3. Minta Maaf Lebih Dahulu

Jangan gengsi untuk meminta maaf lebih dahulu meskipun bukan Anda yang salah. Karena dalam sebuah hubungan cinta, jangan memikirkan siapa yang salah, tapi pikirkanlah siapa yang mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu. Karena dengan mengalah, Anda dapat menjaga hubungan percintaan dengannya tetap harmonis dan romantis. Apalagi jika memang terbukti Anda yang salah, maka tanpa berpikir panjang, segera minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Lalu, mungkin Anda bertanya, kalau dia yang salah tapi kita yang mengalah dan mengaku salah, nanti akan terjadi konflik serupa di kemudian hari? Well, hal itu bisa Anda cegah, kok! Selesaikan dulu konfliknya dan berdamailah dengannya. Setelah semua selesai, ajak pasangan Anda untuk ngobrol santai. Katakanlah bahwa Anda sebenarnya kurang menyukai tindakan pasangan Anda sebelum terjadi konflik.

Contohnya, jika Anda bertengkar karena pasangan Anda tidak membuatkan makan siang rawon, tapi malah soto. Maka setelah Anda meminta maaf dan berdamai dengannya, Anda bisa menjelaskan bahwa Anda lebih suka rawon daripada soto. Kami yakin, pasangan Anda akan mengerti dan kejadian itu tidak akan terulang lagi.

4. Rayu dan Berikan Hadiah

Apakah Anda tipe orang yang romantis? Seberapa sering Anda memberikan hadiah ke pasangan? Jika Anda bingung mencari momen memberi hadiah, maka saat terjadi konflik adalah saat yang tepat untuk itu. Anda dapat merayu pasangan yang sedang marah dengan hadiah yang romantis seperti bunga, cincin, atau makanan favoritnya.

Jangan menjadikan hadiah untuk mengalihkan permasalahan. Sebaiknya Anda tetap menyelesaikan akar permasalahan terlebih dahulu, lalu meminta maaf dengan memberikan hadiah yang manis. Dengan begitu, pasangan Anda akan merasa lebih diperhatikan.

5. Sentuhan Fisik Cukup Efektif

Jika terjadi konflik dengan kekasih tercinta, maka sebaiknya Anda langsung memeluk dan menenangkannya. Hal itu akan menjadi cara ampuh untuk menghentikan konflik. Apalagi jika pasangan sangat marah dan meronta-ronta, maka taktik yang paling jitu adalah menenangkannya terlebih dahulu.

Karena saat Anda melakukan sentuhan fisik dengan pasangan, maka dia akan merasa secure dan tenang. Hal itu telah dibuktikan oleh Carnegie Mellon University yang menyatakan bahwa sentuhan fisik seperti pelukan dapat menghindari stres dan mengubah pikiran negatif menjadi positif. So, jangan gengsi ya untuk memeluknya meskipun dilanda amarah.

6. Dengarkan Keluh Kesah Serta Keinginannya

Apakah Anda pernah mendengar kalimat, “Kamu tidak peka, deh!” Atau, “Peka dikit, napa?!” Well, kalimat-kalimat itu akan terlontar dari mulut pasangan Anda saat Anda tidak tahu keinginan dan kebutuhannya. Apalagi jika Anda diberi kode-kode khusus dari pasangan, kalau tidak pandai memecahkannya, maka kemungkinan besar Anda akan berada dalam bahaya.

Jadi, Anda sebaiknya lebih aktif lagi untuk menggali keinginan dan kebutuhan pasangan. Belajarlah untuk memecahkan kode-kode dari pasangan. Namun jika terlanjur terjadi konflik dan membuatnya marah, maka Anda harus menanyakan keinginan dan keluh kesah pasangan Anda.

7. Jangan Diamkan

Jika Anda tipe pendiam, maka Anda sebaiknya menjadi lebih aktif saat menghadapi konflik dengan pasangan. Tanyakan penyebabnya marah dan mintalah maaf. Selain itu, tetap aktif bersenda-gurau dengannya saat konflik selesai agar suasananya semakin mencair. Karena yakinlah, tidak ada satupun wanita atau pria yang suka dikacangin saat terjadi konflik. Mereka jengkel dan marah, tapi ingin masalah segera selesai.

Memang, terkadang ada tipe pasangan yang lebih suka menyendiri terlebih dahulu saat terjadi konflik, apalagi jika akar permasalahannya sudah parah. Jika Anda memiliki pasangan tipe seperti itu, maka sebaiknya beri dia waktu sejenak, jangan terlalu lama, dan berdamailah dengannya.

8. Beri Ruang Agar Dia Dapat Menenangkan Diri Sejenak

Seperti yang kami katakan di cara sebelumnya, bahwa terkadang ada pasangan yang suka menyendiri terlebih dahulu saat terjadi konflik. Jika pasangan Anda adalah tipe seperti itu, maka beri ruang agar dia dapat menenangkan diri sejenak. Namun jangan lupa untuk tidak mendiamkannya terlalu lama, ya!

Cukup berikan waktu beberapa menit agar dia dapat mencerna apa yang terjadi, kemudian minta maaflah secara baik. Jangan sampai Anda mendiamkannya terlalu lama, nanti konfliknya malah berlarut-larut. Atau bahkan lebih buruk, kekasih hati akan kecewa dengan Anda. Bukankah Anda tidak ingin itu terjadi?